Senin, 09 November 2009

mimpi

mungkin saat ini aku hidup dalam mimpi
dan mencoba seribu jalan untuk menghibur diri
mungkin saat ini aku hidup dalam mimpi
dan mengais kebahagian di antara luka yang perih 
mungkin saat ini aku hidup dalam mimpi
dan berteriak pada malam untuk tidak segera pergi
mungkin aku selalu hidup dalam mimpi
karena hanya disana aku punya cintamu yang tak pernah mati...

Sabtu, 07 November 2009

Dinginnya malam menusuk tulangku
Sampai detik ini aku masih terpaku
Waktu telah berlalu
Dan dia telah pergi
Ingin rasanya hatiku
Berteriak semampuku hingga semua orang tahu
Luka hati yang tertusuk sembilu
Tak terasa jatuh air mataku membasahi bumi
Aku terisak di kegelapan malam
Harapanku sirna
Sirna dibawa derasnya air mataku
Kini aku hanya bisa terdiam
Dan mencoba menyembuhkan luka hatiku...


from our beloved friend,
Silvana
Kau membuat hidupku tak tenang
Membuatku gelisah saat malam menjelang
Membuat jantungku berdegup kencang
Membuat keceriaanku hilang
Tapi apa daya
Aku tak bisa melenyapkanmu begitu saja dari ingatan
Karena wajahmu selalu terbayang



from our beloved friend,
Silvana

Rabu, 04 November 2009

Kamis Berdarah

Kamis yang cerah
Kamis yang gerah
Kami belajar kimia
dengan wajah merana
Dan mata berkaca-kaca
Menunggu bel bergema
Tanda istirahat pertama
Sepertinya kami belum cukup sengsara
Dengan ulangan fisika yang merajam raga
Belum lagi ulangan matematika yang menyiksa

Oh, Kamis yang cerah...
Sampai kapan kau buat kami berdarah-darah?

Selasa, 03 November 2009

"Winning that ticket Rose, was the best thing that ever happened to me... It brought me to you. And I'm thankful for that, Rose. I'm thankful. You must do me this honor, Rose. Promise me you'll survive. That you won't give up. No matter what happens, no matter how hopeless. Promise me now, Rose and never let go of that promise." - Jack Dawson

Sang Pengantuk

Matanya terlihat mengantuk
Wajahnya menunduk
Namun is terus membuka Facebook
Ia mengutuk,
ketika kepalanya terantuk

Pelangi di Tanganmu

Sebentuk pelangi dalam genggaman
Yang kau beli di pecinan
Seharga lima ribuan
Kau putar dengan geraman
Dan berpikir tak ada lagi penyelesaian
Lalu kau hempaskan ke jalanan
Tenggelam dalam genangan
Dan hanya akan menjadi kenangan